Sejarah Lentog, Makanan Khas Indonesia Asal Tanah Jawa

Sejarah Lentog, Makanan Khas Indonesia Asal Tanah Jawa
Sejarah Lentog, Makanan Khas Indonesia Asal Tanah Jawa

Membahas kuliner di Indonesia memang tidak akan pernah ada habisnya. Makanan khas Indonesia sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari bangsa Indonesia.

Lentog merupakan salah satu makanan legendaris khas yang berasal dari kudus, sebuah daerah istimewa yang memiliki sejarah panjang akan walisanga (Sembilan Wali) dan penyebaran islam di tanah jawa.

Rasanya yang sangat unik dan cocok dengan lidah orang Indonesia, menjadikan makanan ini semakin tersebar di seluruh pelosok tanah jawa, bahkan ada yang ditemui di beberapa pulau diluar pulau jawa.

Berkat banyaknya orang yang merekomendasikan makanan ini karena rasa dan namanya yang cukup unik, menjadikan banyak orang juga penasaran dengan sejarah dibalik makanan yang murah dan merakyat ini. Simak artikel ini untuk mengetahui sejarah lentog lebih lanjut.

Baca juga: Tenggorokan Sakit Saat Menelan? Cari Tahu Penyebabnya

Sejarah Lentog makanan khas Kudus

Pada awalnya mulanya Lentog merupakan makanan yang memang dijajakan di pinggir jalan di desa yang yang bernama desa tanjungkarang atau lebih dikenal dengan sebutan Desa Tanjung.

Maka dari itu banyak yang menyebut makanan ini dengan sebutan lentog tanjung, karena berkaitan dengan nama desa tempat kuliner ini berasal yang terletak di kecamatan Jati di Kabupaten Kudus.

Sejarah pertama kali makanan ini tercipta juga cukup unik, pertama kali makanan ini muncul lantaran para penduduk yang ada di desa tersebut dilarang untuk berjualan nasi. Maka dari itulah mulai muncul berbagai makanan varian yang muncul pengganti makanan nasi, salah satunya adalah lentog ini.

Salah seorang tokoh terkenal di kudus yakni KH. Abdul Hadi menceritakan bahwa penyebab nasi dilarang dijual terjadi pada masa zaman kerajaan, saat para wali mulai datang ke Indonesia dan menyebarkan ajaran agama islam di tanah jawa.

Pada saat penyebaran islam ini, maka para wali berinisiatif untuk membangun masjid secara diam-diam karena ditakutkan akan terjadi gangguang jika dilakukan secara terang-terangan.

Sehingga selanjutnya para wali dan santrinya mengerjakan proyek pembangunan masjid ini pada malam hari, agar tidak banyak orang yang tau, termasuk pihak kerajaan yang bisa saja menggagalkan pembangunan masjid ini.

Namun sayangnya pada suatu malam pengerjaan ketika hari masih larut malam terdengar suara seperti suara bedug, yang dikira sebagai penanda waktu sholat subuh sudah tiba. Suara inilah yang menyebabkan para santri untuk bergegas pergi meninggalkan area lokasi pembangunan untuk segera kembali dan melaksanakan sholat subuh.

Usut punya usut ternyata hal ini segera diketahui oleh sang wali, dan karena tidak ingin kejadian ini terulang lagi, Ia menyelediki penyebab suara bedug ini yang ternyata berasal dari ketukan suara saringan kelapa ibu-ibu penjual nasi, saringan kelapa ini juga ia gunakan sebagai tempat nasi.

Menurut KH Abdul Hadi sang tokoh masyarakat menceritakan bahwa sang Wali mengeluarkan peringatan kepada para warga yang ada di desa tanjung, Isinya kurang lebih “Nek ono rejo-rejone jaman. Wong Tanjung ojo ono sing dodolan sego, mergo ngganggu pembangunan.

Dari ucapan wali inilah asal mula jualan nasi menjadi dilarang, sehingga mulai muncul lah makanan penggantinya, yang salahsatunya adalah lentog.

Masjid ini juga yang menjadi cikal bakal masjid yang sangat terkenal di kudus saat ini dengan menaranya yaitu Masjid Menara Kudus. Masjid ini masih berdiri megah hingga sekarang.

Sejarah ini menjadi suatu hal yang sangat berarti bagi warga kudus hingga sekarang. Meskipun masa pembangunan masjid sudah lewat dan berjualan nasi sudah hal bisa dilakukan, namun hingga saat ini lentog masih banyak dan bisa ditemui di seluruh penjuru daerah kabupaten kudus.